06 December 2010

Kejahatan Perang: Pembantaian Rutin Rakyat Irak

Salah seorang dari ketiga mantan pasukan khusus Angkatan Darat AS, Ethan McCord mengatakan, komandan batalyonnya memberi perintah untuk menembak tanpa pandang bulu setelah serangan oleh IED (Improvised Explosive Devices) atau alat peledak yang telah dimodifikasi. "Setiap kali seseorang yang berada dipihakmu mendapat serangan dari IED... Kamu bunuh setiap bajingan (orang-orang) yang ada di jalan" McCord mengutip yang dia katakan.

Corcoles mengatakan kepada wartawan ia sengaja memutar senjatanya jauh dari orang. "Anda bahkan tidak tahu apakah seseorang menembak pada Anda. Ini hanya kegilaan untuk hanya memulai menembak orang."

"Dari pengalaman kita, dan pengalaman veteran lain yang telah kita ajak bicara, kita tahu bahwa tindakan yang digambarkan dalam video ini adalah kejadian sehari-hari perang ini: ini adalah tentang sifat perang yang dibawa pemimpin AS diwilayah ini, "ujar McCord dan Stieber dalam sebuah surat terbuka kepada rakyat Irak yang luka-luka dalam serangan di bulan Juli. Bersama dengan Corcoles, mereka telah memutuskan untuk mengungkapkan kepada masyarakat dunia tentang sifat sebenarnya dari perang.

Dalam video ini McCord sedang bergegas menolong seorang anak yang terluka dari sebuah mobil van. Untuk ini tindakan manusiawi yang ia lakukan, ia "diancam dan diejek oleh komandannya," ujar wartawan The Nation, dan pemimpin pletonnya juga berteriak kepadanya "untuk berhenti khawatir terhadap 'anak-anak bajingan tersebut."

 McCord mengatakan kepada wartawan "beberapa contoh di mana tentara menyiksa tahanan atau memukuli orang di rumah mereka. Dalam satu kasus, katanya, seseorang diambil dari rumahnya, dipukuli dan kemudian ditinggalkan di sisi jalan, berdarah dan masih terborgol, "tulis Lazare dan Harvey.

Para veteran mengatakan mereka mendukung pelepasan dokumen video dan dokumen lain oleh WikiLeaks karena mereka ingin menghadapkan kepada dunia "tentang realitas perang di Irak dan Afghanistan."

Sementara itu, analis intelijen Angkatan Darat Bradley Manning, yang dituduh membocorkan video untuk WikiLeaks, sedang menghadapi tuduhan UU Spionase dan telah dipindahkan ke Kuwait untuk diadili di pengadilan militer, Lazare dan Harvey mencatat.

Pemerintah juga menyelidiki di mana WikiLeaks mendapat 90.000 dokumen-dokumen rahasia militer AS dari Afghanistan yang dirilis pada akhir bulan lalu. Laporan-laporan ini, menurut The Nation, memuat rincian peran tim pembunuh AS, jumlah korban sipil yang meluas akibat serangan AS dan ketidakmampuan pemerintah Afghanistan yang mengejutkan dan korup.

Jubah kerahasiaan totaliter yang digunakan Pentagon untuk menutupi kejahatan perang, membuat pengungkapan oleh analis intelijen Manning muncul dengan lebih berani.
Selama Pentagon membuat dia tetap berada dibalik jeruji, setiap warga Amerika yang percaya pada perintah Alkitab bahwa "kebenaran akan membuat kamu bebas" juga merupakan tawanan tirani yang sama.

Dan ketiga mantan pasukan khusus Angkatan Darat yang menceritakan kisah mereka untuk The Nation telah memberikan ide yang bagus bahwa Pentagon tidak ingin rakyat Amerika tahu.

Oleh Sherwood Ross (Global Research)
*** Sherwood Ross is a Miami-based public relations consultant for worthy causes who formerly reported for the Chicago Daily News and worked as a columnist for several wire services. Reach him at sherwoodross10@gmail.com

0 Comment:

Post a Comment